Iran Ancam Buka Front Baru Jika AS dan Israel Lancarkan Serangan Lagi
Iran Ancam Buka Front Baru Jika AS dan Israel Kembali Menyerang
Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia pada Selasa (19/5/2026) menyatakan bahwa Iran akan membuka front baru jika Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi militer lagi terhadap negaranya. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
"Jika musuh melakukan tindakan bodoh dan jatuh ke dalam perangkap (Israel) lagi, serta melakukan agresi lagi terhadap Iran kami tercinta, maka kami akan membuka front baru bagi mereka dengan metode dan pengaruh baru," kata Akraminia seperti dikutip Kantor Berita Fars, Selasa (19/5).
Sebuah sumber militer Iran mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Teheran telah menyiapkan langkah-langkah taktis baru jika terjadi serangan lagi dari Amerika Serikat. Persiapan ini menunjukkan keseriusan Iran dalam menghadapi potensi eskalasi konflik.
Rencana Serangan AS yang Ditunda
Sebelumnya, pada Senin (18/5), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah merencanakan serangan militer terhadap Iran pada Selasa (19/5). Namun, atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA), Trump menunda rencana tersebut demi memberi kesempatan tercapainya kesepakatan perdamaian.
Meski demikian, Trump pada Selasa (19/5) mengatakan bahwa AS dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada Jumat (22/5) atau awal pekan depan. Keputusan ini dilaporkan juga karena adanya negosiasi serius yang kini berlangsung, sebagaimana dikonfirmasi BBC News.
Kronologi Konflik Iran-AS-Israel
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah meningkat secara signifikan sejak awal tahun. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada 28 Februari 2026, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
Pada 7 April 2026, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata dan melakukan pembicaraan di Islamabad, Pakistan. Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Kini, dengan ancaman serangan baru dan persiapan militer di kedua sisi, situasi di Timur Tengah kembali berada dalam ketidakpastian.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari ANTARA News dan BBC News.
Article Source: This article was synthesized by AI based on news from ANTARA News .