Prospek Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Melemah Akibat Konflik Timur Tengah
Prospek Ekonomi Malaysia Melemah Akibat Konflik Timur Tengah
Maybank Investment Bank memangkas estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Malaysia tahun 2026 menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,9 persen. Pemangkasan ini dipicu oleh risiko berkepanjangan konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan global, mendorong kenaikan harga minyak mentah, dan meningkatkan biaya pengiriman.
Prospek ekonomi Malaysia berada di bawah tekanan signifikan seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus menimbulkan gangguan terhadap arus perdagangan global, memicu inflasi, dan membebani pengeluaran konsumen, demikian pernyataan resmi lembaga riset tersebut pada Minggu (17/5).
Risiko Gangguan Ekonomi
Menurut analisis Maybank, konflik tersebut telah meningkatkan risiko gangguan ekonomi melalui beberapa jalur: harga minyak mentah yang tetap tinggi, penurunan tajam pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, lonjakan tarif pengiriman barang, serta tekanan yang semakin membebani rantai pasokan global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada biaya logistik dan energi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia.
Pandangan Lembaga Riset Lain
Sementara itu, Hong Leong Investment Bank Research tetap berhati-hati terhadap dampak limpahan dari blokade Selat Hormuz, memperingatkan bahwa gangguan produksi dapat muncul mulai Juni tahun ini dan seterusnya. "Untuk saat ini, kami mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB 2026 sebesar 4,5 persen, sejalan dengan perkiraan Bank Sentral Malaysia," kata lembaga riset tersebut pada Senin (18/5).
CGS International juga memperingatkan pada Jumat (15/5) bahwa risiko semakin condong ke arah penurunan pada paruh kedua tahun ini, meskipun ada ekspektasi pertumbuhan yang tangguh pada kuartal kedua yang didukung oleh permintaan eksternal dan aktivitas domestik yang kuat. CGS International memperkirakan permintaan domestik Malaysia akan tetap ditopang oleh stabilitas kebijakan dan subsidi yang tepat sasaran, dan mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB 2026 sebesar 4,8 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi pasar Indonesia mengingat hubungan perdagangan yang erat antara kedua negara tetangga di kawasan ASEAN. Pelemahan ekonomi Malaysia berpotensi mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia dan stabilitas ekonomi regional secara lebih luas.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari ANTARA News dan Xinhua.
Article Source: This article was synthesized by AI based on news from ANTARA News .